Sabtu Terakhir di Lorong Musik
Sabtu Terakhir di Lorong Musik
---
BAB 1 – SUARA ITU KEMBALI
Hari itu Sabtu. Sekolah SMA Cordova nyaris kosong, hanya beberapa siswa dari tim pentas seni yang mondar-mandir membawa peralatan. Maya duduk sendirian di bangku taman kecil di belakang aula. Kepalanya tertunduk, tangan menggenggam headset, tetapi telinganya tidak benar-benar mendengar musik.
Sesuatu menghantam pikirannya—seperti gema yang datang dari masa lalu.
“Kau yakin mau tampil sendiri?”
“Selama ada gitar ini, aku nggak sendirian.”
Itu suara Raka. Selalu seperti itu. Penuh percaya diri, tapi dengan nada lembut yang tak pernah meninggalkan kepala Maya.
Sudah hampir setahun sejak Raka pindah. Atau lebih tepatnya... menghilang.
Tidak ada surat, tidak ada kabar, dan anehnya—tidak ada yang membicarakannya lagi seolah dia tidak pernah ada.
Hingga hari ini, suara itu muncul lagi.
Dari lorong musik.
Lorong yang seharusnya ditutup.
Lorong yang mereka beri nama bersama.
---
BAB 2 – LORONG YANG TERTUTUP
Maya berdiri perlahan. Langkahnya ragu, tapi dorongan dalam hatinya tak bisa ditolak. Ia melewati aula, naik ke lantai dua, dan berhenti di depan lorong sempit dengan jendela kaca buram di ujungnya.
Pettt—tringg...
Nada-nada gitar akustik mengalun. Bukan sembarang permainan. Itu fingerstyle khas Raka—ia bisa mengenali petikannya dari ratusan kilometer.
Tangan Maya bergetar saat memegang gagang pintu.
Terkunci.
Namun...
Dari celah kecil di jendela, ada cahaya redup. Dan bayangan seseorang duduk membelakanginya, memetik gitar.
“Raka…?”
---
BAB 3 – HANTU ATAU NYATA?
“Lo ngapain ke sini?”
Maya tersentak. Itu bukan Raka.
Itu Arvin, cowok pendiam dari kelas seberang. Tapi... tunggu, gitar itu—itu gitar Raka! Dengan stiker kepala naga dan tanda tangan kecil mereka berdua di bagian belakangnya.
Maya menahan nafas. “Kamu... dari mana kamu dapat gitar itu?”
Arvin menatapnya dengan datar. “Ini... dikasih. Dari Raka.”
---
BAB 4 – FLASHBACK YANG TIDAK DIUNDANG
Satu tahun lalu. Raka dan Maya hampir setiap Sabtu datang ke lorong musik. Mereka menulis lagu bersama. Mereka berbagi rahasia.
Dan saat semua orang sibuk membicarakan cinta-cintaan remaja biasa, Maya dan Raka saling memberi kode lewat lirik. Hanya mereka berdua yang mengerti.
Lalu suatu hari...
Raka tidak datang.
Dan tidak pernah kembali.
---
BAB 5 – KODE YANG TERSISA
Arvin menyerahkan sesuatu. Kertas lusuh dengan lirik lagu setengah jadi.
> “...Jika kau mendengar petikan ini,
Aku masih ada di sini.
Tapi jangan cari aku,
Kecuali kau ingat lagu kita...”
Maya memeluk kertas itu. Itu tulisan Raka. Tidak salah.
“Aku harus tahu kenapa dia pergi,” gumamnya.
Arvin menghela napas panjang. “Kamu nggak tahu, ya? Dia nggak pergi begitu saja...”
---
BAB 6 – KEBENARAN YANG TERPENDAM
Ternyata... Raka terlibat konflik besar dengan ayahnya yang kepala sekolah. Ia menolak pindah ke luar negeri untuk sekolah musik formal dan lebih memilih tetap di Cordova bersama Maya dan teman-temannya.
Namun malam sebelum keberangkatan, ia ditangkap karena dianggap membobol ruang data sekolah.
“Dia dijebak,” kata Arvin pelan. “Dan aku tahu siapa yang melakukannya.”
Maya menatapnya tajam. “Siapa?”
Arvin menunduk. “Kakakku.”
---
BAB 7 – BALASAN DALAM LAGU
Pentas seni malam itu berlangsung megah.
Tapi di balik panggung, Maya memegang gitar Raka dan naskah lagu mereka yang belum selesai. Ia tahu malam itu, lagu ini harus dinyanyikan. Bukan untuk piala. Tapi untuk kebenaran.
Ia melangkah ke atas panggung.
> “...Untuk kamu yang tak sempat pamit,
Untuk Sabtu terakhir yang tak sempat terucap,
Aku di sini...
Masih menunggu lorong musik berbicara kembali.”
Penonton hening.
Dan di antara barisan penonton, Maya melihat seseorang berdiri di balik tiang panggung.
Raka.
---
BAB 8 – PENGAKUAN & PELUKAN
Setelah pertunjukan, Raka menghampirinya dengan mata berkaca-kaca. Rambutnya lebih panjang, wajahnya tirus. Tapi senyumnya masih sama.
“Maya... kamu masih inget lagu itu,” bisiknya.
Maya memukul pelan dadanya. “Bukan cuma lagu, Rak. Aku nggak pernah lupa kamu.”
Raka menarik napas dalam. “Aku kembali bukan cuma karena itu. Aku mau semua orang tahu yang sebenarnya.”
Dan malam itu, di depan kepala sekolah, guru, dan seluruh siswa, Arvin dan Raka membuka semuanya. Bukti rekaman, chat manipulatif, dan bahkan saksi lain.
---
BAB 9 – PENUTUP YANG TERBUKA
Raka dibebaskan dari semua tuduhan. Ia memutuskan tetap tinggal di Indonesia dan membuka kursus musik kecil di belakang sekolah.
Lorong musik? Kini dibuka kembali dan dinamai:
“Studio Sabtu”
Maya sering datang. Bukan cuma untuk bernyanyi, tapi untuk mengingat bahwa kadang, perpisahan cuma jeda dalam lagu. Bukan akhir.
---
EPILOG
> Di lorong musik itulah semua dimulai.
Dan di sana pula semua diselesaikan.
Cinta. Dendam. Dan lagu yang tertunda.
"Sabtu Terakhir di Lorong Musik" kini bukan hanya kenangan... tapi awal dari banyak kisah baru.
---
Comments
Post a Comment